Sang Pendongeng Takdir : CERITA BISU, PART 1

Namaku Takdir.

Sejak kecil itulah namaku, aku lupa sekecil apa tapi aku kira waktu itu aku kecil. Aku lupa siapa yang memanggilku atau malah memberiku nama itu.

Aku ingat pagi ini terbangun di sebuah gubuk tua di pinggir kota. Matahari menembus celah-celah kayu lapuk yang menopang atap dari rerumputan kering di atasku. Ruangan itu gelap kecuali bagian-bagian yang disinari cahaya di celah-celah dinding. Baunya seperti asap dan rumput segar, jadi aku segera berdiri tegak.

Aku lupa darimana asalku, aku lupa dimana ini, yang aku ingat namaku Takdir dan aku harus pergi.
Oh, apa aku sudah bilang saat itu aku tak tahu harus pergi kemana?

Maka dari itu aku segera berlari keluar dan langsung di sambut oleh pohon-pohon pisang dan hutan beton. Kekontrasan antara hutan beton nan mewah dan pohon-pohon pisang itu membuatku ingin tertawa.

Aku menatap sekelilingku, hanya ada semak hijau segar, gubuk tua tak terawat dan ya… pohon pisang. Hutan beton dihadapanku terasa jauh dan dekat dalam waktu yang sama. Menjulang tinggi menusuk-nusuk langit biru.

Aku bisa mendengar tangisan meng’aduh’ langit dari sini, awan-awan terlihat marah dan menggeser diri mereka sejauh mungkin dari pohon-pohon beton.

Aku baru menyadari bahwa aku bertelanjang kaki, bajuku sepertinya dulu berwarna putih (atau dari dulu memang berwarna cokelat lusuh seperti ini?), rambutku berantakan dan kulitku putih pucat.

Kuku-kukuku hitam, dan kakiku lecet di sana sini. Kepalaku sedikit pening dan mataku tiba-tiba berkunang-kunang.

Aku ingat harus pergi, walau aku tak tahu kemana tapi aku harus pergi. Jadi aku berlari, mengindahkan kakiku yang lecet dan kepalaku yang berdenyut.

Dan sampai disini.

Aku menatap Januari yang sedang bersender malas di pagar balkoni rumahnya. Menatap lurus menembusku, cahaya mentari menyinari rambut kecokletannya, kulit sawo matangnya seolah bercahaya di atas sana. Jangan tanya aku kenapa aku tahu namanya. Aku hanya tahu.

Aku tahu segalanya tentang Januari, ia adalah seorang gadis dengan mata paling cokelat, dengan kulit dan rambut kecoklatan pula, Januari menyukai tiramisu, ia selalu meminum susu cokelat di pagi hari, Januari menyukai warna emas, Januari sebenarnya lahir di bulan Desember,

Januari punya kebiasaan membunyikan jari-jarinya saat sedang gugup.

Tiba-tiba aku mengenal Januari lebih dari diriku sendiri.

Aku bahkan bisa mendengar apa yang sedang ia pikirkan.

Ia sedang bertanya, apa ia akan mati kalau jatuh dari sana, apa hanya tulangnya yang patah? Dan memutuskan bahwa ia akan mati kalau kepalanya yang mendarat lebih dulu. Aku bisa mendengar suara desahan bahagianya saat matahari menyinarinya. Ia menyukai kehangatan, dan membenci hujan.

Januariku yang malang.

Sebentar lagi musim hujan.

Aku mendekat ke arah pagar rumah yang terbuka lebar mengundangku, aspal yang panas membakar telapak kakiku, aku meringis dan masuk ke halaman rumah Januari.

Halaman rumah Januari tandus, hanya satu tanaman yang hidup disitu, mawar merah dengan dedaunan yang rontok dan menguning—walau ajaibnya mawar-mawar itu masih sewarna darah, sepertinya kakiku menginjak satu karena kakiku basah oleh sesuatu. Darah mungkin.

Aku melangkahkan kakiku ke lantai berkeramik putih yang dingin, meninggalkan jejak darah bercampur lumpur, kasihan ibu Januari, ia pasti marah, ibu Januari selalu menyukai lantai keramiknya yang putih bersih. Pintu depan rumah itu tidak dikunci, sehingga tanpa hambatan aku masuk ke rumah itu, tanpa ada yang memberitahuku pun aku tahu dimana kamar Januari, maka dari itu aku langsung bergegas ke kamarnya.

Kamar Januari adalah ruangan kedua di lantai atas.

Menghadap langsung ke jalanan. Menaiki tangga curam membuatku sedikit takut, jadi aku sedikit berjingkat ketika menaikinya. Di sepanjang dinding rumah di pasangi berbagai foto. Aku kenal foto-foto itu, Subroto, ayah
Januari adalah seorang pengusaha yang lumayan berhasil. Banyak terpajang foto-fotonya bersama orang penting di negeri ini. Walau bagiku orang-orang itu tidak penting sama sekali. Sedangkan ibunya adalah penggila image keluarga bahagia dan senang memamerkan kebahagiaan keluarganya. Ia memasang banyak foto keluarga, mulai dari Januari berumur 3 tahun sampai ia berumur 17 tahun. Ibu Januari memasangnya agar semua orang yang datang ke rumah mereka mengetahui, betapa sempurna kehidupan keluarga itu.

Januari anak tunggal, rambutnya yang keriting dan tebal ada warisan dari ibunya, sedangkan kulit cokelatnya adalah warisan ayahnya. Ia anak yang dimanja oleh sang ibu, namun sang ayah jarang bertegur sapa dengannya. Mungkin karena ayahnya sibuk, atau ayahnya memang lebih menganggap orang-orang yang ada di dalam foto itu lebih penting dari anaknya tidak ada yang tahu. Yang jelas ibunya selalu meyakinkan dirinya bahwa keluarga mereka adalah keluarga hangat yang sangat dekat satu sama lain.

Keadaan keluarga Januari sangat kompleks. Di satu sisi ibunya yang hidup dalam bayang-bayang palsu yang ia dirikan sendiri, ayahnya hidup dengan bayang-bayang yang uang dan harta buat. Namun, Januari tidak menyukai bayang-bayang, karena itu ia memilih berada di balkon disinari cahaya matahari.

Karena ia benci bayangan..

Aku sampai di ruangan kedua, bau pintu cokelat yang catnya masih baru menusuk hidungku. Aku dapat mendengar senandung kecil Januari dari dalam kamarnya. Senandung dari lagu yang ia sendiri tidak tahu lagu apa.
Aku menutup mataku dan mendengarkan senandung itu.

Dan ikut bernyanyi bersama gadis 17 tahun di balik pintu yang sedang bermandikan sinar matahari.

Hari ini aku duduk di balkoni rumah Januari, ia sedang pergi sekolah, jadi aku duduk disana menatap jalanan dengan bermandikan sinar matahari. Aku memalingkan pandanganku dan menatap kamar Januari yang rapi.

Catnya berwarna oranye terang, tempat tidurnya berseprai putih bersih, sedangkan karpet kuning menghiasi lantainya. Buku-buku psikologi berjejer di rak bukunya, ayah dan ibunya atau siapapun tidak mengetahui (kecuali aku tentunya) obsesi Januari terhadap kondisi psikolog manusia.

Di dinding kamar Januari tidak ada satu poster, atau foto, atau apapun. Januari tidak seperti ibunya, ia benci foto atau poster. Ia bahkan benci gambar manusia.

Januari menyukai hal yang normal. Bertahun-tahun ia mengejar kenormalan. Ibunya memiliki kelainan, ia menyadari hal itu. Bu Subroto atau Maryuliani Ahmad (Maryuliani Subroto setelah menikah) adalah seorang yatim piatu yang besar di dalam panti asuhan, saat remaja Maryuliani diadopsi oleh keluarga kaya yang hancur berantakan. Keluarga itu mengadopsi Maryuliani karena menghindari tekanan dari pihak-pihak yang mendesak mereka agar memiliki seorang pewaris. Suami-istri itu memiliki keluarga lain, mereka tidak saling mencintai. Hidup di tengah keluarga seperti itu membuat Maryuliani terobsesi dengan keluarga bahagia.

Ayah Januari, Alung Subroto, adalah lelaki gila kekuasaan. Ia menikahi Maryuliani dengan alasan obsesinya akan uang itu, karena Maryuliani adalah pewaris satu-satunya dalam keluarganya yang terdahulu. Mereka bertemu di sebuah pesta keberhasilan proyek yang diadakan ayah Maryuliani. Sekarang Alung Subroto adalah direktur utama sebuah perusahaan yang seharusnya di ketuai oleh Maryuliani. Namun Maryuliani rela memberikan apapun demi lelaki itu. Nyawa sekalipun.

Januari sendiri dari kecil adalah anak yang suka menyendiri. Ia menghabiskan membaca buku-buku yang dapat ia temukan di rumahnya. Buku-buku bisnis biasanya, sampai akhirnya, ia membaca majalah ibunya tentang kenormalan. Ia juga menyadari bahwa teman-temannya mengangggapnya aneh dan menjauhinya. Ia mempelajari ‘kenormalan’ dari internet. Mengamati teman sekelasnya yang disenangi banyak orang.

Dulu warna kesukaan Januari adalah biru tua dan hitam. Namun, ia mempelajari anak-anak di kelasnya saat itu kebanyakan menyukai warna merah muda. Ketika ia membawa tas merah muda ke sekolah, semua orang mulai bicara kepadanya. Mulai dari itu Januari mulai mencari kenormalan. Membaca buku-buku psikologi, untuk mencari arti normal yang sesungguhnya. Dari segala kenormalan, Januari menyukai tipe yang disenangi banyak orang. Tipe yang ceria.

Ia menipu dirinya sendiri, ia menyingkirkan semua warna gelap dari kamarnya dan menggantinya dengan warna yang ceria. Januari berlatih tersenyum 2 jam sehari di depan cermin. Memanjangkan rambutnya yang keriting, mengecat dindingnya dengan warna oranye cerah. Memakai aksesoris, berteman dengan banyak orang, bahkan berpacaran dengan beberapa pria.

Januari mengejar kenormalan agar semua orang mau berteman dengannya. Dan ia selalu menganggap dirinya sudah cukup normal, walau ia terus saja membaca buku-buku psikologi itu agar tidak keluar dari jalur normalnya.

“ya, ma. Aku sudah makan”, suara Januari yang nyaring membahana dari bawah. Aku dapat mendengar suara langkah kakinya di tangga, agak terburu-buru dan tidak berjingkat. Suara langkah kaki itu makin mendekat dan tiba-tiba pintu cokelat di hadapanku terbuka lebar.
Januari masuk dengan terengah-engah, mata cokelat mudanya seperti menyala, rambutnya yang keriting berantakan dan seragamnya tampak lecek. Ia menatap ke seluruh penjuru kamar, mencari sesuatu dan menutup pintunya agak keras. Januari menghampiri rak bukunya, mencari sesuatu disana. Aku menatapnya dengan bingung, aku berdiri dan berjalan mendekatinya.

Aku berjongkok di sampingnya dan menatap buku yang sedang dibacanya, psikologi—tentu saja. Ia menggumamkan sesuatu dan membunyikan jari-jarinya, aku berlagak tidak mendengarnya. Aku lelah mendengar segala yang ia katakan, bisikan, gumaman bahkan pikirkan. Walau aku masih mengetahuinya, aku pura-pura tidak mendengarnya.

Lagi-lagi Januari mencari sesuatu tentang kenormalan.
Dahinya berkeringat dan wajahnya pucat. Tanpa bertanya pun aku tahu apa yang terjadi kepadanya. Di sekolah, salah seorang temannya dengan setengah bercanda mengatainya abnormal.

Bukannya ini terjadi setiap hari kepada Januari sampai-sampai aku hapal. Aku hanya tahu, aku bahkan bisa mengingat waktu temannya itu menunjuk Januari dengan kata ‘abnormal’ karena Januari melontarkan sebuah lelucon yang ia browsing di internet semalaman. Aku hanya tahu, bahkan mungkin aku disana.

Tangan Januari gemetar, persis seperti saat ia tidak memakan sarapan paginya. Saat menemukannya ia menangis, kata normal itu. Ia menunduk lalu menatap beranda menenembusku. Ia menutup buku itu dengan air mata yang menuruni pipinya. Masih meracau kata normal berkali-kali.

Lalu menutup matanya, lelah karena menangis dan tertidur di lantai.

Aku menatap Januari yang tertidur. Aku bisa mendengar ibu Januari mengomel karena lantai terasnya kotor oleh lumpur. Cahaya matahari dari beranda menembus korden putih dan menyinari punggungku sehingga aku merasa agak kepanasan. Namun, aku suka menatap Januari dari sini jadi aku malas untuk bergerak.

Januari membenci bayangan, maka dari itu ia menghabiskan waktunya di dalam cahaya hampir setiap waktu.

Taukah Januari? Bayangan tercipta karena cahaya ada..

Advertisements

About oranyeorangeoren


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: