Sang Pendongeng Takdir : PROLOG

Gadis itu tetap datang dalam mimpi-mimpiku. Atau bukan mimpi. Atau hanya khayalanku. Selalu bertelanjang kaki dan berpakaian lusuh. Selalu menyapa dalam diam dan menatapku. Selalu berceloteh senang atau dalam diam. Selalu tampak dan tak tampak.

Samar-samar atau tidak. Kulihat atau tidak. Dibalik bayangan atau diluar jangkauannya. Kadang putih atau cokelat. Kadang gadis, kadang bujang.

Ia menceritakan kisah mereka. Atau hanya melihatku dan menceritakan kisahku. Aku tidak tahu, kau boleh menebak siapa dia, atau siapa aku. Ia bukan manusia karena ia tak terlihat. Ia selalu terdengar oleh orang yang tak takut.

Dan aku tidak atau takut. Kau boleh menebak. Ia tak pernah mempertanyakan apa itu dia atau kenapa ia tetap datang. Apa itu aku dan mengapa aku ada.

Ia tidak mempertanyakan umurnya, ia hanya menjalani hidupnya. Menyusuri jalannya. Ia tidak meraba. Ia tidak mengira. Ia tahu.

Ia gadis nyata yang hidup dalam mimpiku, atau khayalanku. Selalu banyak atau dalam deskribsi gadis itu. Karena ia tidak absolut, dan siapa yang bilang kita absolut? Ia hanya bercerita. Berceloteh dalam diam.
Ia hanya menyaksikan dan berteman tanpa ketahuan. Ia menyelinap dan mati. Lalu bangun dan menyelinap. Hanya menyaksikan, berteman tanpa ketahuan. Lalu bercerita lagi dalam diam.

Kau bisa mendengarnya tapi tak bisa melihatnya. Ia dibenci. Tapi tak pernah membenci. Ia jujur tapi tak pernah berkata. Ia hanya gadis kecil yang lugu. Tapi ia tidak ada atau ada. Karena ia hanya nyata disana. Di dalam lorong kecil di kepalaku. Aku adalah salah satu dalam ceritanya.

Yang ia ceritakan tanpa suara.

Hanya ia saksikan. Ia hidup, percayalah. Mungkin menyaksikanmu dalam ruangan sepi. Menemanimu dan menceritakan kisahmu. Lalu pagi ini ia bangun lagi dari mati.

Ya sayang, ia ada tanpa detak dan nafas. Ia tertawa kadang tersenyum. Ia pernah menangis, mungkin. Lagipula ia hanya gadis kecil, atau anak lelaki. Atau telah dewasa maupun tua. Karena aku tidak tahu dan ia tidak bertanya. Ia hanya hidup dan menonton. Ia hanya menjalani.

Tidak ada yang pernah memanggil namanya. Tapi aku tahu dalam diam. Karena ia hidup di sudut kepalaku. Kadang duduk atau berdiri, kadang menunggu.

Ia tahu namanya karena ia tidak mengira. Ia tidak hampa tapi kosong.

Namanya Takdir dan suaranya parau.

Advertisements

About oranyeorangeoren


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: