Sang Pendongeng Takdir : CERITA BISU BAGIAN II

“Apa?”, aku tersenyum menatap Missy. Missy adalah gadis kecil berkepang dua dengan tubuh kurus dan mata hitam. Kulitnya sawo matang, 2 gigi susunya yang paling depan tambal, ia memiliki senyum paling menawan yang pernah kulihat.

Missy buta, ia tak bisa melihat. Tapi ia mendengar dengan sangat baik. Hampir sama baiknya denganku. Ia juga suka membayangkan segala hal dari yang di dengarnya, sama denganku. Maka dari itu, aku memutuskan untuk bicara kepadanya.

Aku tidak pernah bicara kepada siapapun sebelumnya, bahkan Januari yang tidak buta. Tapi Januari tidak akan mau menerimaku bila ia melihat atau mendengarku, karena ia ingin menjadi normal. Begitu juga ribuan orang normal lainnya. Mereka tidak akan mempercayaiku dan menanyaiku beribu pertanyaan sampai mereka dapat mengambil kesimpulan paling logis.

Biasanya kesimpulan itu berujung kepada, aku gadis gila.
Namun, mereka memiliki 2 kesalahan dalam menyebutku ‘gadis gila’. Yang pertama, aku belum tentu seorang gadis. Aku memang memakai gaun dan rambutku panjang. Tapi belum tentu aku seorang gadis. Terkadang aku percaya bahwa aku adalah seorang anak lelaki. Dan saat itu aku adalah laki-laki.

Yang kedua, aku tidak gadis lagi. Bukannya aku telah kehilangan keperawananku atau apa. Sebaliknya, aku masih sampai sekarang, mengingat aku terlihat seperti anak 11 tahun. Walau aku tidak yakin, sepertinya aku hidup sudah lama sekali. Entahlah, kadang aku malah merasa aku sangat muda. Aku yakin aku terlahir beberapa kali, namun, ya, aku pastinya telah hidup sangat lama.

“Aku bilang, bukankah mawar putih itu kesukaanmu?”, Missy bertanya lagi sembari menyodorkan beberapa tangkai mawar putih kepadaku. Aku mengangguk, walau Missy buta ia bisa melihat. Ia dapat melihatku
mengangguk. Ia bahkan dapat melihatku menggaruk hidungku yang gatal. Missy adalah gadis terhebat yang pernah kutemui.

Aku mengambil mawar-mawar itu, menyentuh kelopak-kelopaknya dengan hati-hati takut kalau-kalau mereka gugur apabila aku menyentuhnya terlalu kasar. Tiba-tiba, aku merasa darahku menetes keluar, aku fimiliar dengan rasa pedih dan bau amisnya, dan sepertinya, begitu juga Missy—karena ia tertawa kecil.

“Apa kau tahu, mawar putih memang terlihat rapuh”, Missy mengambil mawar-mawar itu dan memotong semua durinya dengan sebuah pisau kecil. “Namun sebenarnya mawar putih itu lebih kuat dari yang kau kira”. Ia tersenyum dan mengembalikan mawar-mawar itu kepadaku.

Aku menatap Missy yang sedang meraih sesuatu di kantongnya dengan wajah penuh konsentrasi. Mata hitamnya yang biasanya terlihat besar menyipit, ia meleletkan lidahnya dan bola matanya yang kosong menatap menembus langit.

“Ah!”, ia tersenyum lebar, memamerkan giginya yang ompong. “Ini dia!”, Missy mengeluarkan sebuah plester luka yang sudah terlipat-lipat, ia membuka lipatannya dan membuka kertas yang ada di belakang plester. “Kemarikan tanganmu”, Missy berkata lembut membuatku tersenyum tanpa kusadari. Aku menyodorkan tanganku di depannya, mengira-ngira bisakah ia menemukan atau bahkan menyentuh tanganku.

Ia tersenyum dan tanpa ragu meraihnya, merengkuhnya, menyentuhnya. Ia menemukan tanganku. Aku lupa kapan terakhir kali daging berlapis kulit menyentuhku. Lengkap dengan ribuan pembuluh dan darah yang mengalir deras di dalamnya. Lengkap dengan kehangatan yang menyelimutinya.

Missy memasangkan plester itu dengan hati-hati dan rapi, tepat dimana luka itu berada. Tanpa ada cacat sedikit pun dalam pekerjaannya.

Aku mengenal Missy sama seperti aku mengenal Januari. Missy buta sejak lahir. Umurnya 12 tahun. Ia menyukai bunga, ia menyukai sinar mentari dan hujan. Ia menyukai kucing-kucing liar yang tersesat, bahkan ia juga memperlakukan anjing bulukan yang sering makan dari tempat sampah dengan baik, memberinya makan dan mengelusnya lembut. Ia hidup di panti asuhan, hidup disana sejak kecil, sangat kecil.

Aku bertemu dengan Missy 2 bulan yang lalu, saat itu aku sedang berjalan tanpa arah. Menyusuri aspal panas dengan kaki telanjang, menatap awan putih yang mulai kelabu. Di belokan pertama aku menemukan sebuah rumah dengan halaman terindah. Tidak seperti halaman rumah Januari yang dipenuhi bunga mawar kering dan berduri, halaman rumah ini dipenuhi dengan berbagai macam warna, segar dan terawat. Warna hijau mendominasi, meramaikan seluruh tempat itu. Di antara bunga-bunga dan tanaman itu berdirilah seorang gadis berkepang dua. Matanya menerawang entah kenapa namun tangannya sedang menyirami sebuah pohon cabai kecil.

Tentu saja saat bertemu dengannya aku segera tahu nama gadis itu. Ia Missy, dan aku segera mengetahui rumah itu bukanlah rumah melainkan sebuah panti. Dan tentu saja, aku tahu segalanya tentang Missy. Aku mengenal seluruh hidupnya. Warna kesukaannya, makanan favoritnya bahkan detak jantungnya pun terasa familiar. Karena itulah aku. Entah kenapa, aku selalu bisa mengenal mereka yang kutemui.

Aku mendekatinya, masuk ke dalam halaman indah itu dan tiba-tiba, tanpa aku kira atau aku tebak. Missy memanggilku masuk, ia tahu aku disana. Ia memanggilku ‘kau’. Terkadang aku merasa nama itu tidak jelek juga, karena jarang sekali ada orang yang memanggilku dengan nama takdir.

Aku terkadang kesulitan mengetahui apa yang dipikirkan Missy. Mungkin karena matanya selalu menerawang, atau kenyataan ia selalu tahu aku ada disana. Yang jelas Missy sulit kubaca, sulit untuk kuketahui. Namun, bukan berarti aku tidak bisa. Aku hanya berkata itu sulit.

“Nah, selesai!”, Missy melepaskan sentuhan hangatnya dariku. Lalu kembali duduk di rumput basah di halaman tempat kami pertama kali bertemu, matanya masih menerawang. Aku menatap plester itu, mencolok diantara jari-jariku yang berwarna putih pucat. Lalu aku ikut duduk dan mulai mencabuti rumput-rumput liar di sekitarku.

“Hari ini aku bertemu Januari”. Aku memulai sebuah pembicaraan.

“Oh, ya? Bagaimana dia?”.

“Ia berambut keriting lebat, mata dan kulitnya cokelat, ia menyukai sinar matahari tapi membenci bayangan”.

“Benarkah? ia terdengar menyedihkan”.

“Kau belum melihat halaman rumahnya”.

Missy dan aku tertawa kecil. Entah bagaimana Missy selalu tahu apa yang kumaksudkan, menangkap semua hal yang ingin kukatakan dan tertawa bersamaku. “Bagaimana kamarnya?”, Missy ikut mencabuti rumput bersamaku.

“Rapi, sangat rapi dengan warna oranye terang”.

“Wow”, Missy tertawa kecil. “Oranye terang? Hebat, orang macam apa yang akan mewarnai kamar tidurnya seperti itu? Aku tidak akan bisa tidur dengan warna terang seperti itu”. Missy tertawa lagi. “Januari itu, ya… apa kau pikir dia normal Missy?”.

Missy tersenyum, “normal?”. Aku mengangguk, “ya, sama seperti orang lain”. Missy tertawa lebih keras, “tidak”.

“Kenapa?”.

“Karena kau tidak bisa menjadi sama, bahkan untuk menjadi mirip kau harus merubah separuh dirimu menjadi orang lain”.

Hari ini aku bertemu dengan Selasa saat aku ingin membuntuti Januari ke sekolahnya. Berbeda dengan Januari atau Missy, Selasa berambut pendek lurus, hitam dan lebat. Kulitnya putih seperti susu dan matanya hitam seperti telaga.

Awalnya ia hanya ‘ribuan orang biasa’ yang kutemui lalu lalang. Namun, Selasa berwajah sangat sedih. Aku bisa mendengar tetesan air mata di pipinya. Walau ia tersenyum kepada seorang pria di sebelahnya. Walau suaranya lantang tanpa getar. Walau matanya menunjukkan kebahagiaan tak terhingga, dengan sinar kecil di lensanya. Aku dapat mendengar ia menangis, isakannya yang memanggil gerimis.

Dan itulah kenapa aku tertarik dan malah mengikuti Selasa. Selasa adalah sekretaris OSIS, anak pertama dari dua bersaudara. Adik laki-lakinya masih SMP. Ayah Selasa adalah seorang guru dan ibunya membuka usaha katering di rumah mereka. Pria yang ada di sampingnya adalah Bintang, Selasa menyukai Bintang, aku tidak perlu dua kali mengecek tatapan Selasa kepada Bintang untuk mengetahuinya.

Dan ada sebuah kisah menarik dalam diri Selasa.
Selasa sekarang duduk di kelasnya, pelajaran ketiga adalah biologi. Selasa mencatat apa yang ibu Risma, guru biologi kelas XI IPA I terangkan. Aku sedikit bosan saat memperhatikan Selasa yang terpaku melihat pelajaran. Aku tidak mengerti orang-orang ini, padahal cita-cita Selasa adalah menjadi pengacara, kenapa ia susah-susah belajar biologi. Yang paling membingungkan, ya, kenapa dia susah-susah masuk kelas IPA?

Yah, aku sudah mendengar teorinya, sih. Aku hidup sudah lama, mati lalu mendapati aku membuka mata di tempat yang tak kukira (dan sayangnya aku bukan di surga atau neraka tapi tetap di dunia), aku telah hapal cara pikir ribuan orang di dunia ini. Mereka berpikir yang sulit lebih bagus, yang mahal juga lebih eksklusif. Menurutku semuanya sama. Mungkin karena aku tidak pernah menginginkan sesuatu, karena itu aku tak pernah tahu mana yang lebih bagus.

Aku menatap keluar jendela, gerimis jatuh pelan-pelan, bercampur dengan tanah. Meninggalkan bau hujan yang merayap masuk melalui celah jendela yang tertutup. Tiba-tiba Selasa mengalihkan perhatiannya dari Bu Risma, tubuhnya menegang dan keringat dingin turun dari dahinya. Aku bahkan bisa mendengar detak jantungnya yang berdetak makin cepat setiap detiknya. Nafasnya yang tercekat di kerongkongannya. Dan isakannya yang makin kencang hampir memekakkan telingaku.
Yah, walau hanya aku dan mungkin saja dia yang dapat mendengarnya. Tunggu, mungkin Missy dapat mendengarnya juga kalau ia ada disini. Selasa menatap buku tulis yang tadi ia tulisi dengan penuh konsentrasi. Menarik nafas dalam-dalam beberapa kali walau ia tersedak udara yang coba ia hirup. Selasa seperti tenggelam, seperti ketakutan.. hanya saja ia tidak seperti.

Selasa telah lama tenggelam, dan dihantui oleh ketakutan.
Dan ia tak bisa mengontrol ketakutannya, sama seperti Januari. Selasa berdiri, meminta izin untuk pergi ke kamar kecil dan meninggalkan kelas. Ia bergetar saat ia berjalan dengan cepat di koridor sekolah. Menunduk sepanjang jalan dan menolak untuk menatap sekelilingnya.

Aku dapat melihat 3 tahun yang lalu, saat rambut Selasa masih panjang seperti sutra, saat ketakutan belum menelannya bulat-bulat…

Saat Selasa menatap ketiga punggung orang-orang yang ia sayangi tertawa bersama. Seorang pria tinggi dengan kacamata dan kulit putih susu, senyumnya lembut dan menenangkan, matanya penuh cinta yang diarahkan kepada gadis di sampingnya. Gadis itu bertubuh mungil, rambutnya pendek sebahu dengan bando ungu gelap, matanya cokelat tua, senyumnya ceria. Segala yang semua orang inginkan, segalanya. Di samping kiri gadis itu berdiri lelaki lain. Rambutnya pendek, memakai baju basket, matanya besar dan bersinar penuh antusias, kulitnya cokelat dan tubuhnya lebih pendek dari lelaki pertama.

Selasa dari belakang menatap ketiga sahabatnya, Mandala, Bintang dan Gerimis. Dan aku bisa melihat, tangisannya yang meronta. Aaah.. cinta. Bintang, lelaki dengan baju basket jelas menyukai Gerimis. Ya, menurutku seperti drama murahan dalam kotak besar berwarna.

Mandala, lelaki kacamata dan Gerimis saling menyukai, sepasang kekasih malahan. Bintang menyukai Gerimis namun bungkam. Dan Selasa menyukai Bintang dan mengikuti jejak pujaan hatinya untuk bungkam. Tipikal sekali, sudah lama tidak ada yang sedramatik ini.

Selasa sampai di depan pagar beton raksasa, yah setidaknya bagiku. Ia menatap jalan buntu itu beberapa detik lalu berjongkok. Aku bisa mendengar isakan walau suara itu tidak dapat di dengar orang lain. Suaranya seirama dengan gerimis. Lemah dan pilu.

‘Salahku. Salahku. Salahku. Aku melihat mobil itu, aku melihatnya. Aku hanya terlalu jahat untuk memperingatinya. Bahkan setelah ia terbaring disana tanpa nyawa, sebagian dari diriku bahagia. Sebagian dari diriku lega ia pergi. Aku adalah pembunuh. PEMBUNUH! Tolong. Tolong. Tolong. Aku ingin ini bukan salahku. Siapa saja katakan ini bukan salahku. Tapi ini salahku. Tolong. Tolong. Tolong. Ini salahku. Tapi satu orang saja katakan ini bukan salahku. Tolong.”

Yah, aku dengar. Aku dengar Selasa. Yah, sayangnya aku tidak bisa menolongmu. Kau tidak bisa melihatku, atau mendengarku. Karena kau membenciku. Sama seperti Januari. Kau tidak mepercayaiku.

Kau buta.

Dan gerimis menangis. Dan Selasa minta tolong.

“Jadi kau menemui gadis bernama Selasa ini?”, Missy menyirami rumput-rumput liar yang ada di dalam sebuah pot. Ia menganggap rumput-rumput liar itu memiliki bunga yang cantik jadi ia memeliharanya. Dulu saat pertama kali aku mendengar alasan aneh itu aku tertawa dan berkata bahwa tanaman itu sering kuinjak di pinggir jalan, ia hanya tersenyum.

“Ya, begitulah”, kataku sambil meremas pasir-pasir di dekat kakiku. Missy tertawa kecil, “hmm? Apa yang lucu?”. Missy menghentikan tawanya dan tersenyum, “tidakkah kau sadar? Januari, Selasa, selanjutnya kau akan bertemu siapa? 2010?”. Aku tertawa kecil. “yah, bukan aku yang memberi mereka nama”, aku mengerutkan dahiku ketika pasir yang ada di genggamanku meluncur dari sela-sela jariku.

“Bagaimana dia?”, Missy meletakkan perkakas berkebunnya dan berjongkok di depanku. “Menyedihkan, menangis, ketakutan, minta tolong kepada siapapun dalam diam. Merambat dalam kesunyian dan memekakkan telingaku”. Aku menggenggam pasir yang tersisa dari tanganku dengan tangan yang lain. “Hmm.. minta tolong?”, Mata Missy yang selalu menerawang terfokus ke arah pasir yang ada di tanganku . “Yah, minta tolong kepada seseorang, siapapun”.

“Hmm….”, Missy menyerok segenggam pasir ke tangannya. Aku menatapnya lalu ikut menyerok pasir ke tanganku lagi, aku meliriknya yang menatapku dengan tatapan yang lucu, yah, walau matanya masih menerawang. Aku menaikkan sebelah alis mataku, lalu menatap pasir di tanganku dan menggegamnya. Pasir di tanganku meluncur lagi dari selah-selah jariku. Aku mendengus kesal sedangkan Missy tertawa kecil.
Ia tersenyum kepadaku dan membentuk tangannya yang lain seperti mangkok lalu meletakkan pasir itu kesana. “Jangan di remas kalau kau tidak ingin pasir itu lari dari tanganmu”, katanya sambil meletakkan pasir itu perlahan ke bawah. “Yah, yah, perumpamaan yang bagus”, aku meletakkan sisa pasir di tanganku ke tanah. “Itu bukan perumpamaan”, ia masih tersenyum manis.

“Heh”, aku menatap langit. Kesunyian menyelimuti kami, aku sesekali menatap Missy dari sudut mataku. Ia kembali menyirami sebuah pohon cabai kecil. “Kau sedang apa?”, ia sadar kalau aku sedang mengamatinya. “Mencoba membaca pikiranmu”, kataku jujur, ia hanya terawa kecil.

“Aku kira kau tak bisa”. Missy tersenyum.

“Kenapa kau berpikir seperti itu?”, matanya terus menerawang dan ia tetap melanjutkan pekerjaannya, tapi aku tahu ia agak terkeut dengan pertanyaanku yang sedikit serius. Mungkin ia berpikir aku akan tertawa karena menganggap itu lucu. “Karena kau selalu bertanya tentang pendapatku”, ia menjawab mulus.

“Yah, kau… sulit dibaca, tapi aku bisa kalau aku berkonsentrasi”.

“Sulit? Kenapa bisa?”.

“Karena kau terus menerawang”.

Kali ini ia benar-benar tertawa. Ia tertawa sangat kencang sampai-sampai air bercipratan ke bajunya. “Aku bukan menerawang bodoh, aku buta”, katanya di sela tawa. Aku menyernyitkan dahiku. “Kau tidak buta! Kau bisa melihatku!”.

“Aku bisa merasakanmu, aku tidak melihatmu”, sekarang ia berhenti tertawa. “Apa bedanya? Bagiku itu semua sama”, aku melipat kedua tanganku. “Beda”. Missy duduk di sampingku. “Kau keras kepala!”, teriakku. “Lihat siapa yang bicara”.

Aku mendengus dan menatap langit, Missy hanya tersenyum. Aku tidak mengerti Missy, kalau benar ia buta, kenapa mudah sekali baginya untuk berkata seperti itu? Kenapa ia tidak tersinggung atau marah?

Aku melupakan kenyataan bahwa Missy buta, ya. Aku lupa ia adalah anak yatim piatu, aku lupa kedua gigi susu depannya tanggal, sepertinya aku lupa semua kekurangan Missy. Mungkin karena aku sudah lama tidak memiliki teman. Dan memiliki Missy sebagai teman membuatku… yah… senang? Entahlah, aku kan telah lupa beberapa perasaan seperti itu. Aku bahkan lupa bagaimana caranya menangis.

Missy pernah bilang warna kesukaannya putih. Putih sangat membosankan. Aku agak berharap ia akan menjawab warna lain. Maksudku, putih?
Aku bertanya kenapa saat itu, dan dengan mata yang menerawang ia menjawab karena ia selalu melihat hitam. Saat itu juga aku lupa kalau Missy buta dan dengan jawabannya aku baru ingat. Aku bertanya lagi, memangnya dia pernah melihat putih? Darimana ia tahu kalau warna putih sebagus itu?

Ia menggelengkan kepalanya, dan menjawab belum pernah. Maka dari itu ia penasaran warna bagaimana yang menjadi lawan hitam. Aku bilang itu seperti cahaya, terang tapi kosong. Ia hanya tersenyum. “Aku belum pernah melihat cahaya atau kekosongan, hanya ada gelap”. Jawabnya saat itu dengan ringan, kesal juga ia tidak keberatan dengan keadaannya. Sedih saja tidak.

“Hei, Missy. Tidakkah kau sedih kau tidak memiliki penglihatan?”, tanyaku tiba-tiba. Missy menatapku (aku yakin ia menatapku) dari balik matanya yang kosong. “Sedih? Memangnya aku harus sedih?”, aku menatapnya dengan terkejut. “Maksudku, apa kau tidak marah. Benci dengan Takdir, menyalahkan Tuhan?”, tanyaku lagi.
Ia hanya merapatkan kedua alisnya keheranan, “kenapa aku harus marah dan membenci takdir atau menyalahkan tuhan?”.

“Ya, ampun! Kau buta!”.

“Lalu? Memangnya salah takdir dan tuhan aku buta?”.

Aku terlonjak kaget. Dari semua manusia yang kutemui sampai sekarang, semuanya sangat senang menyalahkan dan membenciku, atau tuhan. Atas semua kekurangan atau sebuah peristiwa. Seperti Januari yang sering kali menyalahkan tuhan ia menjadi ‘abnormal’ dan lahir di tengah keluarga seperti itu (yang benar saja). Dan Selasa yang membenci keduanya karena Gerimis.

“Tapi, tidakkah kau kesal? Tuhan memberikan semua orang sepasang mata yang dapat melihat sedangkan kau hanya bisa melihat hitam, tidakkah kau merasa ia merampas hakmu?”, Missy menatapku seperti aku gila. “Dan, dan takdirlah yang membuatmu seperti ini!”, sekarang Missy tidak menatapku.

“Hmm… tidak. Ada yang salah dari perkataanmu”.

“Tuhan tidak merampas hakku, dari awal itu bukan hakku. Tidak ada yang bilang manusia harus memiliki dua mata yang dapat melihat atau kedua kaki yang dapat berjalan. Tidak ada yang pernah mengatakan manusia harus memiliki satu hidung yang dapat mencium dan dua telinga yang dapat mendengar”. Aku menatapnya kebingungan, maksudnya apa sih?

Missy hanya tersenyum geli, “aku sempurna”. Katanya tanpa keraguan. “Aku sempurna, aku tidak merasa kurang. Aku tidak pernah merasakan bagaimana hidup dengan sepasang mata yang bisa melihat, dari awal aku memang tidak hidup dengan mereka. Dan aku tidak pernah merasa aku ‘kekurangan’ “.

Aku menggaruk kepalaku bingung, “bisakah kau memberi contoh saja?”.

Missy tertawa dan mengelus seekor kucing yang datang entah dari mana, mungkin salah satu kucing yang ia beri makan. “Contohnya, seperti kucing ini. Dari awal ia tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk berjalan dengan dua kaki atau dua lengan. Ia tidak pernah diberi akal untuk berpikir seperti manusia. Ia tidak mengeluh, karena ia tidak tahu bagaimana rasanya. Ia merasa ia sudah sempurna. Ia hidup dengan itu seumur hidupnya”.

“Bagaiamana bisa kau membandingkan dirimu, Missy, dengan seekor kucing! Mereka tidak punya otak!”.

“……”.

“Jadi?”.

“Kau pernah iri dengan malaikat?”, tanyanya tiba-tiba.

“Hah?”, aku agak terkejut. “Malaikat, kau tahu bagaimana malaikat kan?”, aku menggeleng. “Dalam sebuah cerita malaikat bersayap putih, dengan paras cantik dan gagah, suci dan berambut pirang. Kata bunda Nurhayati, malaikat diciptakan dari cahaya dengan tempat yang paling suci. Di cerita lain aku bahkan mendengar mereka hampir setara dengan dewa”.

Bunda Nurhayati adalah pengasuh Missy di pantinya. Ia sangat menyayangi bunda Nurhayatinya, setiap hari ikut mendengar setiap cerita bunda Nurhayati. Walau bunda telah mengatakan anak-anak di bawah umur 13 boleh keluar dan bermain diluar (karena anak-anak panti yang berumur 14 ke atas akan diberikan pelajaran agama) Missy diam-diam mendengar. Bunda Nurhayati tahu, tentu saja. Tapi toh ia tidak keberatan.

“Iri? Kenapa aku harus iri?”.

Missy menatapku di balik mata kosongnya, seolah ia telah memenangkan sesuatu. “Kau diciptakan tuhan bukan? Manusia juga, mengapa kau tidak iri dengan malaikat, ia punya sayap. Sayap untuk terbang. Ia diciptakan dari cahaya. Ia suci. Tidakkah kau iri? Memang manusia dikatakan sempurna, tapi sesempurna apapun kau bilang kita pasti iri kalau ada orang yang lebih kan? Nah, apa kau iri dengan malaikat?”.

Aku menggeleng.

“Ya, aku juga, kau tahu kenapa?”.

Aku menggeleng lagi.

“Karena kita memiliki kemampuan yang tidak ia miliki karena kekurangan itu. Kita bisa terbang tanpa sayap dengan pesawat. Kita bisa suci tanpa terbuat dari cahaya dengan berdo’a. Kita sempurna dengan cara kita, tanpa mukjizat. Seperti itulah aku. Aku tidak bisa melihat karena aku buta, tapi aku bisa menyirami kebunku tanpa mata. Aku bisa membedakan cabai-cabaiku tanpa warna. Aku sempurna. Sempurna dengan caraku sendiri. Sama seperti kucing ini”.

Missy menutup matanya.

“Aku masih sempurna walau kakiku patah atau telingaku tuli, asalkan aku bisa bersyukur dan tidur malam ini lalu bangun esok pagi dengan senyuman tanpa dengki. Aku masih sempurna”.

Advertisements

About oranyeorangeoren


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: